Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Lahan Rawa Potensi Lumbung Pangan Masa Depan

Foto: waspada.co.id
Bahkan dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 yang akan berlangsung di Kalimantan Selatan pada 18-21 Oktober mendatang, pemerintah menetapkan tema yang secara khusus terkait dengan pengembangan lahan rawa. Tema HPS kali ini adalah Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045. 

Hasil pemetaan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, luas lahan rawa di seluruh Indonesia sekitar 33,43 juta ha. Lahan rawa pasang surut memiliki luas paling besar mencapai 20,1 juta ha. Lahan tersebut terdiri atas tipologi lahan potensial seluas 2,1 juta ha, sulfat masam (6,7 juta ha), gambut (10,9 juta ha), dan salin (0,4 juta ha). 

Sementara itu, luas lahan rawa lebak di Indonesia sekitar 13,3 juta ha. Perinciannya seluas 4,2 juta ha berupa lebak dangkal, 6,1 juta ha lebak tengahan, dan 3,0 juta ha lebak dalam. Dari total luas lahan rawa itu, hasil penelitian menyebutkan sekitar 9,53 juta ha ternyata sesuai untuk kegiatan budidaya pertanian. 

Namun hingga kini luas lahan rawa yang dimanfaatkan untuk budidaya pertanian baru mencapai sekitar 2,27 juta ha. Artinya, lahan rawa yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian hanya 23,8% dari luas total lahan rawa yang sesuai untuk kegiatan pertanian. Sisanya, yang 76,2% atau seluas sekitar 7,26 juta ha belum dimanfaatkan. 

Namun untuk mengolah lahan rawa tersebut menjadi usaha pertanian perlu teknik tersendiri. Mengingat, lahan rawa (khususnya rawa lebak) tipografinya kalau hujan selalu tergenang dan kalau musim kemarau kering. Begitu juga untuk rawa pasang surut, kondisi airnya sangat tergantung pasang dan surut air laut. 

Manajemen Air 

Menurut Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana, kunci penting dalam pengelolaan lahan rawa adalah manajemen tata air. "Jadi Pending Dadih Permana berapa ketinggian air harus kita atur. Saat musim hujan seperti apa, begitu juga saat musim kemarau," ujarnya. 

Namun secara garis besar, dalam pengaturan air dibuat kanal dan polder. Kanal untuk mengatur air saat musim kemarau. Sedangkan polder untuk menjaga agar tinggi muka air tidak melebihi lahan usaha tani saat musim hujan. "Untuk budidaya tekniknya sama saja dengan lahan sawah," kata Dadih kepada Sinar Tani. 

Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan, Dirjen PSP, Indah Megahwati menambahkan, dengan kondisi genangan air di rawa lebak ketika banjir sangat tinggi dan saat kemarau mengalami kekeringan secara masif, untuk mengoptimalkan lahan rawa tak semudah yang dibayangkan. 

Kendala lainnya, lokasi umumnya jauh dari permukiman penduduk, infrastruktur juga terbatas, medannya sangat berat dan tingkat keasamannya sangat tinggi. Selain itu, keberadaan lahan rawa biasanya di daerah yang kontur tanahnya rendah, sehingga pH-nya sangat rendah (4-5). Artinya kondisi lahannya sangat asam. "Karena itu perlu manajemen tata air supaya lahan rawa tersebut bisa dioptimalkan. Salah satu yang sudah berjalan baik berada di Sumatera Selatan," kata Indah. 

Dalam manajemen air di lahan rawa agar sirkulasi air mengalir terus, perlu trentnien dengan pompa. Di sepanjang rawa lebak juga diberi polder dan kanal. Dengan bantuan pompa, air di rawa tersebut bisa mengalir melalui kanal. 

"Agar airnya bisa masuk dan keluar, tiap kanal diberi pintu masuk dan keluar. Air yang mengalir di sepanjang kanal secara terus-menerus secara masif juga akan mengurangi tingginya ringkat keasaman tanah dan mempermudah aliran oksigen di sekitar rawa," turur Indah. 

Perlakuan lain dalam pengelolaan lahan rawa ungkap Indah adalah bagaimana mengurangi tingginya pH. Untuk itu bisa dilakukan dengan pemberian kapur sebanyak 4 ton/ha. Lahan yang sudah diberi kapur tersebut diendapkan sekitar 1 minggu untuk menetralisir asamnya. Agar tanahnya subur, lahan yang sudah dinetralisir dengan kapur tersebut diberi pupuk kandang. 

"Seperti yang kami lakukan di Kalimantan Tengah, lahannya sudah menjadi basa. Pada musim tanam pertama sampai ketiga memang produksi padinya belum maksimal. Kalau hasilnya 1-2 ton/ ha sudah cukup bagus. Namun, setelah empat kali musim, produksi padinya mencapai 5 ton/ha," tuturnya. Sedangkan pertanama padi di rawa lebak di Jejangkit, Kalsel, yang menjadi lokasi gelar teknologi HPS nanti, produksinya diperkirakan bisa mencapai 6 ton/ ha, sambung Indah. 

Selain mengelola tata airnya, Indah mengatakan, agar produksinya maksimal petani harus memilih bibit padi yang tahan keasaman. Padi varietas lokal umumnya lebih tahan keasaman dibandingkan varietas padi lainnya (seperti Inpari). 

Menurut Indah, faktor yang tak kalah penting untuk mengoptimalisasi lahan rawa dan pasang surut adalah dengan mekanisasi pertanian, selain lahannya luas, medannya pun berat. "Kondisi lumpur umumnya dalam, sehingga perlu alat modern untuk mengolah lahan rawa," ujarnya seraya menambahkan, karena itu optimalisasi lahan rawa di sejumlah daerah tak bisa dilakukan petani secara mandiri. 

Untuk itu, perlu dukungan pemerintah daerah dan stakeholder lainnya supaya lahan rawa ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. "Mulai buka lahan, olah tanah, tanam, hingga panen harus menggunakan alsintan. Buka lahannya dengan escavator, olah tanah dengan traktor dan tanamnya dengan rice transplanter. Panennya dengan combine harvester," paparnya. 

Ia mengatakan, optimalisasi lahan rawa juga berdampak positif terhadap kesejahteraan petani. Contohnya, sebelum lahan rawa dioptimalkan, petani rata-rata hanya bisa tanam setahun sekali. Di saat genangan tinggi, petani hanya hidup dengan menangkap ikan sepat yang nilai ekonomisnya rendah. "Kami berharap dengan mengoptimalkan lahan rawa, petani akan lebih sejahtera. Dari yang semula setahun panen sekali, nantinya bisa panen 2-3 kali setahun," jelas Indah. 

Dengan potensi yang sangat besar itu, tahun 2018 Kementan akan mengembangkan lahan rawa tersebut di 8 provinsi seluas 41.000 ha. Di antara optimalisasi lahan rawa tersebut adalah Sumatera Selatan 16.150 ha, Kalimantan Selatan 4.600 ha, Kalimantan Barat 2.000 ha, Kalimantan Timur 1.050 ha, Kalimantan Tengah 8.000 ha, Lampung 5.000 ha, Bangka Belitung 1.100 ha, dan Jambi.3.100 ha. 

Sedangkan pada tahun 2016 sudah ada uji coba pengembangan lahan rawa seluas 5.000 ha. Tahun 2017 seluas 5.000 ha dan tahun 2019 ditargetkan seluas 35.000 ha. Indah berharap, dengan potensi lahan rawa bisa menjadi lahan abadi untuk penyokong produksi pangan nasional.

Sumber: Tabloid Sinar Tani 10 Oktober 2018

Post a Comment

0 Comments